Sabtu, 28 April 2012

Laporan praktikum mikrobiologi uji antibiotik mikroba


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Pada ilmu mikrobiologi ini kita mempelajari banyak tentang jasad-jasad renik yang disebut juga dengan microba atau protista, di mana adanya, ciri-cirinya, kekerabatan antara sesamanya seperti juga dengan kelompok organisme lainnya, penggunaan dan peranannya dalam kesehatan serta kesejahteraan kita. Mikroorganisme sangat erat kaitannya dengan kehidupan kita, beberapa di antaranya bermanfaat dan yang lain merugikan. Banyak di antaranya menjadi penghuni dalam tubuh manusia. Beberapa mikroorganisme menyebabkan penyakit dan yang lain terlibat dalam kegiatan manusia sehari-hari seperti misalnya pembuatan anggur, keju, yogurt, produksi penicillin, serta proses-proses perlakuan yang berkaitan dengan pembuangan limbah.
Uji sensitivitas bakteri merupakan cara untuk mengetahui dan mendapatkan produk alam yang berpotensi sebagai bahan anti bakteri serta mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan atau mematikan bakteri pada konsentrasi yang rendah.
Metode uji sensitivitas bakteri adalah metode cara bagaimana mengetahui dan mendapatkan produk alam yang berpotensi sebagai bahan anti bakteri serta mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan atau mematikan bakteri pada konsentrasi yang rendah. Uji sentivitas bakteri merupakan suatu metode untuk menentukan tingkat kerentanan bakteri terhadap zat antibakteri dan untuk mengetahui senyawa murni yang memiliki aktivitas antibakteri.
B.  Tujuan
                                      Adapun tujuan dari percobaan ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk menguji antibiotik dapat menghambat pertumbuhan khamir jenis Candida albicans.
2.      Untuk menguji bahan logam sebagai zat yang dapat menghambat pertumbuhan khamir jenis Candida albicans.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Sensitifitas menyatakan bahwa uji sentifitas bakteri merupakan suatu metode untuk menentukan tingkat kerentanan bakteri terhadap zat antibakteri dan untuk mengetahui senyawa murni yang memiliki aktivitas antibakteri. Metode Uji sensitivitas bakteri adalah metode cara bagaimana mengetahui dan mendapatkan produk alam yang berpotensi sebagai bahan anti bakteri serta mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan atau mematikan bakteri pada konsentrasi yang rendah. uji sentivitas bakteri merupakan suatu metode untuk menentukan tingkat kerentanan bakteri terhadap zat antibakteri dan untuk mengetahui senyawa murni yang memiliki aktivitas antibakteri. Seorang ilmuan dari perancis menyatakan bahwa metode difusi agar dari prosedur Kirby-Bauer, sering digunakan untuk mengetahui sensitivitas bakteri. Prinsip dari metode ini adalah penghambatan terhadap pertumbuhan mikroorganisme, yaitu zona hambatan akan terlihat sebagai daerah jernih di sekitar cakram kertas yang mengandung zat antibakteri. Diameter zona hambatan pertumbuhan bakteri menunjukkan sensitivitas bakteri terhadap zat antibakteri. Selanjutnya dikatakan bahwa semakin lebar diameter zona hambatan yang terbentuk bakteri tersebut semakin sensitif (Gaman, dkk. 1992).
Pada umumnya metode yang dipergunakan dalam uji sensitivitas bakteri adalah metode Difusi Agar yaitu dengan cara mengamati daya hambat pertumbuhan mikroorganisme oleh ekstrak yang diketahui dari daerah di sekitar kertas cakram (paper disk) yang tidak ditumbuhi oleh mikroorganisme. Zona hambatan pertumbuhan inilah yang menunjukkan sensitivitas bakteri terhadap bahan anti bakteri  (Jawelz, 1995).
Tujuan dari proses uji sensisitivitas ini adalah untuk mengetahui obat-obat yang paling cocok (paling poten) untuk kuman penyebab penyakit terutama pada kasus-kasus penyakit yang kronis dan untuk mengetahui adanya resistensi terhadap berbagai macam antibiotik. Penyebab kuman resisten terhadap antibiotik yakni memang kuman tersebut resisten terhadap antibiotik yang diberikan, akibat pemberian dosis dibawah dosis pengobatan dan akibat penghentian obat sebelum kuman tersebut betul-betul terbunuh oleh antibiotic (Dwidjoseputro, 1998).
Antibiotik adalah zat-zat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman-kuman sedangkan toksisitasnya bagi manusia relatif kecil. Para peneliti diseluruh dunia memperoleh banyak zat lain dengan khasiat antibiotik namun berhubung dengan adanya sifat toksis bagi manusia, hanya sebagian kecil saja yang dapat digunakan sebagai obat diantaranya adalah streptomycin vial injeksi, Tetrasiklin kapsul, Kanamicin kapsul, Erytromicin kapsul, Colistin  tablet, Cefadroxil tablet dan Rifampisin kapsul (Djide, 2003).
Kegiatan antibiotika untuk pertama kalinya ditemukan oleh sarjana Inggris dr. Alexander Flemming pada tahun 1928 (penisilin). Penemuan ini baru dikembangkan dan dipergunakan dalam terapi di tahun 1941 oleh dr.Florey (Oxford) yang kemudian banyak zat lain dengan khasiat antibiotik diisolir oleh penyelidik-penyelidik di seluruh dunia, akan tetapi berhubung dengan sifat toksisnya hanya beberapa saja yang dapat digunakan sebagai obat (Djide, 2003).
Antibiotik digunakan untuk membasmi mikroba penyebab terjadinya infeksi. Gejala infeksi terjadi akibat gangguan langsung oleh mikroba dan berbagai zat toksik yang dihasilkan mikroba. Pada dasarnya suatu infeksi dapat ditangani oleh sistem pertahanan tubuh, namun adakalanya sistem ini perlu ditunjang oleh penggunaan antibiotik. Antibiotik yang digunakan untuk membasni mikroba penyebab infeksi pada manusia, harus memiliki sifat toksisitas selektif. Artinya antibiotik harus bersifat toksik untuk mikroba, tetapi relatif tidak toksik untuk hospes. Toksisitas selektif tergantung kepada struktur yang dimiliki sel bakteri dan manusia misalnya dinding sel bakteri yang tidak dimiliki oleh sel manusia, sehingga antibiotik dengan mekanisme kegiatan pada dinding sel bakteri mempunyai toksisitas selektif relatif tinggi (Ganiswarna, 1995).
Sensitivitas bakteri terhadap antibiotik tergantung kapada kemampuan antibiotik tersebut untuk menembus dinding sel bakteri. Antibiotik lebih banyak yang efektif bekerja terhadap bakteri Gram positif karena permeabilitas dinding selnya lebih tinggi dibandingkan bakteri Gram negatif. Jadi suatu antibiotik dikatakan mempunyai spektrum sempit apabila mampu menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif, sedangkan antibiotik berspektrum luas jika pertumbuhan bakteri Gram positif dan bakteri Gram negatif dapat dihambat oleh antibiotik tersebut (Sumadio, dkk. 1994).
Berdasarkan sasaran tindakan antibiotik terhadap mikroba maka antibiotik dapat dikelompokkan menjadi lima golongan yaitu antibiotik penghambat sintesis dinding sel mikroba, antibiotik yang termasuk kelompok ini ialah penisilin, sefalosporin, basitrasin, dan vankomisin. Yang kedua yaitu antibiotik penghambat sintesis protein sel mikroba, antibiotik yang termasuk kelompok ini ialah golongan aminoglikosida, makrolida, kloramfenikol, linkomisin dan tetrasilin. Yang ketiga yaitu antibiotik penghambat sintesis asam nukleat sel mikroba, antibiotik yang termasuk kelompok ini ialah rifampisin dan golongan kuinolon. Keempat yaitu antibiotik pengganggu fungsi membran sel mikroba, antibiotik yang termasuk kelompok ini ialah golongan polien. Dan yang kelima yaitu antibiotik penghambat metabolisme mikroba, antibiotik yang termasuk kelompok ini ialah sulfonamida, trimetoprin dan asam p-amino salisilat (Ganiswarna, 1995).
Zona Hambat merupakan tempat dimana bakteri terhamabat pertumbuhannya akibat antibakteri atau antimikroba. Zona hambat adalah daerah untuk menghambat pertumbuhan mikroorrganisme pada media agar oleh antibiotik. Contohnya: tetracycline, erytromycin, dan streptomycin. Tetracycline merupakan antibiotik yang memiliki spektrum yang luas sehingga dapat menghambat pertumbuhan bakteri secara luas (Pelczar, 1986).
Logam berat terbagi atas 2 kelompok yaitu logam berat yang bersifat sangat beracun (toksik) seperti: Arsen (As), Merkuri (Hg), Timbal (Pb), Cadmium (Cd) danChromium (Cr) dan logam esensial yang juga dapat menjadi racun apabila dikonsumsi secara berlebihan, antara lain: Tembaga (Cu), Besi (Fe), Zink (Zn) dan Selenium (Se) (Suhendrayatma, 2001).
BAB III
METODOLOGI
A.      Waktu dan Tempat
Adapun waktu dan tempat pelaksanaan praktikum ini adalah sebagai berikut :
Hari/Tanggal        : Rabu, 18 April 2012
Waktu                  : 13.15 – Selesai WITA
Tempat                 :  Laboratorium Mikrobiologi Dasar FMIPA UNTAD

B.     Alat dan Bahan
1.      Alat
Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.      Bunsen                                          7.  Cawan petri 4 buah                       
2.      Kertas                                            8.  Botol semprot
3.      Kapas                                            9.  Erlenmeyer 50 ml & 250 ml
4.      Tabung reaksi                                10.Jarum Ose
5.      Spoid 1 ml                                     11.Inkubator
6.      Pinset
           
2.      Bahan
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.      Alkohol 70 %
2.      Uang logam kuning 4 buah
3.      Antibiotik Tetracycline
4.      Medium NA (Nutrien Agar)
5.      Sampel khamir jenis Candida albicans.
C.    Prosedur Kerja
1.      Mensterilkan tangan dengan menyemprotkan alcohol 70 % secara menyeluruh pada telapak sampai permukaan lengan.
2.      Mensterilkan cawan petri dengan melidah-apikan cawan petri secara merata.
3.      Mensterilkan mulut Erlenmeyer dengan cara melidah-apikan pada api Bunsen.
4.      Memasukkan medium dengan cara membuka penutup cawan petri dengan sudut 30o dan mendekatkannya pada api Bunsen.
5.      Mensterilkan jarum ose dengan melidah-apikan pada api Bunsen dan mencelupkan pada alkohol 70%.
3.      Membuka kapas penutup sampel bakteri pada medium agar miring, mensterilkan ujung tabung reaksi. Kemudian menggesekkan jarum ose pada khamir jenis Candida albicans..
4.      Mengambil sampel khamir jenis Candida albicans dengan menggunakan spoid 1 ml.
5.      Membuka cawan petri dengan sudut 30o dan memasukkan masing-masing 3 ml sampel khamir jenis Candida albicans ke dalamnya. Kemudian menutup cawan petri.
6.      Menunggu medium sampai memadat.
7.      Mensterilkan uang logam dengan melidah-apikan pada api Bunsen, lalu mencelupkannya ke dalam alkohol 70%, kemudian melidah-apikan kembali dan mendinginkan.
8.      Membuka 2 buah cawan petri dengan sudut 30o dan memasukkan masing-masing 2 uang logam dengan menggunakan pinset. Kemudian menutup cawan petri.
9.      Membuka 2 buah cawan petri yang lain dengan sudut 30o dan memasukkan masing-masing  antibiotik Tetracycline ke dalamnya. Kemudian menutup cawan petri.
10.  Membungkus agar cawan tersebut dengan menggunakan kertas secara terbalik dan setelah itu menyimpan ke inkubator dengan suhu 37 oC selama 48 jam.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil Pengamatan















B.     Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan uji antibiotik dan logam terhadap pertumbuhan mikoba. Antibiotik yang digunakan adalah antibiotik tetracycline dan logam yang digunakan adalah uang logam kuning, logam ini kebanyakan mengandung unsur kimia tembaga (Cu).
Antibiotik adalah bahan yang dihasilkan oleh mikroorganisme atau sintetis yang dalam jumlah kecil mampu menekan menghambat atau membunuh mikroorganisme lainnya. Antibiotik memiliki spektrum aktivitas antibiosis yang beragam. Mekanisme kerja antibiotik antara lain adalah menghambat sintesis dinding sel, merusak permeabilitas membran sel, menghambat sintesis RNA (proses transkripsi), menghambat sintesis protein (proses translasi), menghambat replikasi DNA. Tetracycline merupakan antibiotik bakteriostatis yang berikatan dengan subunit ribosomal 16S-30S dan mencegah pengikatan aminoasil-tRNA dari situs A pada ribosom, sehingga dengan demikian akan menghambat translasi protein. Antibiotik tetracycline  bersifat bakteriostatik pada bakteri gram positif maupun gram negatif. Mekanisme kerjanya mengganggu sintesis protein kuman spektrum kerjanya luas kecuali terhadap Psudomonas & Proteus. Tetracycline berasal dari jamur Streptomyces aurefaciens dan Streptomyces viridifaciens.
Tembaga adalah salah satu jenis logam berat, tembaga digunakan karena diketahui bahwa logam berat merupakan salah satu zat yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba.
Prinsip dari percobaan ini adalah penghambatan terhadap pertumbuhan mikroorganisme, yaitu zona hambatan akan terlihat sebagai daerah jernih di sekitar daerah yang mengandung zat antibakteri. Diameter zona hambatan pertumbuhan bakteri menunjukkan sensitivitas bakteri terhadap zat antibakteri. Selanjutnya dikatakan bahwa semakin lebar diameter zona hambatan yang terbentuk bakteri tersebut semakin sensitif.
Pada percobaan ini medium yang digunakan adalah medium NA (Nutrien Agar), karena medium ini dispesifikasikan untuk pembiakan bakteri dan sampel fungi yang digunakan adalah khamir jenis Candida albicans.
Berdasarkan hasil pengamatan setelah sampel diinkubasi selama 48 jam, diperoleh hasil bahwa pada cawan petri yang diberikan antibiotik tetracycline, terdapat zona hambat yang ditandai dengan daerah sekitar antibiotik berwarna bening. Terdapatnya zona hambat pada percobaan tersebut disebabkan karena khamir tersebut tidak resisten terhadap antibiotik yang ditanam pada media yang sama. Resistensi ini merupakan suatu sifat tidak terganggunya kehidupan sel mikroba oleh antimikroba. Sifat ini merupakan suatu mekanisme alamiah untuk bertahan hidup. Resistensi dari khamir tersebut biasanya disebabkan karena khamir tersebut dapat menghasilkan suatu enzim yang dapat menghancurkan antibiotik tersebut.
Sedangkan pada cawan petri yang diberikan uang logam tidak ditemukan adanya zona hambat pada daerah sekitar logam. Tidak terjadinya zona hambat pada daerah sekitar logam disebabkan karena khamir tersebut memiliki resistensi terhadap logam yang ditanam pada media yang sama. Jadi khamir tersebut dapat tumbuh walaupun terdapat logam di sekitarnya karena memiliki sifat resistensi yaitu kemampuan untuk bertahan hidup. Selain itu hal lain yang dapat menyebabkan tidak adanya zona hambat, yaitu faktor dari logam itu sendiri. Logam yang digunakan adalah uang logam kuning yang tidak sepenuhnya tersusun atas unsur kimia tembaga (Cu), tetapi masih banyak terdapat unsur-unsur lain yang menjadi penyusun logam tersebut.
Sebab lain yang menyebabkan tidak adanya zona hambat pada media tersebut dikarenakan oleh kesalahan dalam proses pengujian sensitivitasnya. Pada saat memasukkan logam, keadaan logam masih sangat panas dan medium juga masih belum terlalu memadat sehingga mengakibatkan medium mengalami kerusakan.

BAB V
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1.    Uji antibiotik mikroba adalah pengujian suatu antibiotik terhadap pertumbuhan mikroba.
2.    Antibiotik adalah bahan yang dihasilkan oleh mikroorganisme atau sintetis yang dalam jumlah kecil mampu menekan menghambat atau membunuh mikroorganisme lainnya.
3.    Tetracycline merupakan antibiotik yang memiliki spektrum yang luas sehingga dapat menghambat pertumbuhan khamir secara luas.
4.    Berdasarkan hasil pengamatan antiobiotik tetracycline terbukti dapat menghambat pertumbuhan khamir jenis Candida albicans yang tandai dengan adanya zona hambat pada daerah sekitar antiobiotik. Sedangkan pada logam tidak terbukti dapat menghambat pertumbuhan khamir jenis Candida albicans.


B.   Saran
Diharapkan kepada praktikan lebih memahami prinsip percobaan dan prosedur kerja pada percobaan.






DAFTAR PUSTAKA

Djide, M.N, 2003. Mikrobiologi Farmasi, Jurusan Farmasi Unhas, Makassar.

Dwidjoseputro, D.1998,  Dasar-Dasar Mikrobiologi, Djambatan, Jakarta.

Gaman, P. M., dan Sherrington, K. B., 1992, Ilmu Pangan : Pengantar Ilmu Pangan, Nutrisi, dan Mikrobiologi, Edisi Kedua, Yogyakarta, UGM – Press.

Ganiswarna, S.G, 1995. Farmakologi dan Terapi Edisi 4. Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Jawetz, G., Melnick, J. L., dan Adelberg, E. A. 1991, Mikrobiologi untuk Profesi Kesehatan, Jakarta, EGC.

Pelczar, Michael J, 1986, Dasar-Dasar Mikrobiologi, UI-Press, Jakarta.

Suhendrayatna, 2001, Bioremoval logam berat dengan menggunakan mikroorganisme, Disampaikan pada seminar on-Air Bioteknologi untuk Indonesia Abad 21. 1-14 Februari 2001, Sinergy Forum-PPI Tokyo Institute of Technology.

Sumadio, H., dan Harahap, 1994, Biokimia dan Farmakologi Antibiotika, USU Press, Medan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar